Rabu, Juli 21, 2010

BAPAK KU KO PAJA, IBUKU METRO MINI

Seperti biasa,sore itu ku bergegas keluar dari kantor. Dengan langkah agak gontai , kulangkahkan kakiku untuk menuju halte bis dekat mabes polri. Kebetulan saat itu badanku sedikit meriang.,,rasa capek, polusi dan sesaknya kota jakarta semakin membuatku ingin segera sampai di kost untuk istirahat.

Akhirnya tak berapa lama, yang ditunggu telah datang, metro mini 75…dengan warna dan bentuknya yang khas. Alhamdulillah dapat tempat duduk, lumayanlah walaupun bau dan agak kotor, masih lumayan nyaman. Sang sopir pun langsung tancap gas…wus..wus…, emang mungkin sopir metro mini punya bakat jadi pembalap, Siat…siut..belok kanan kiri….rem mendadak hal yg wajar…mengemudikan bus tua ditengah macet dan padatnya jalanan jakarta..salut deh buat pak sopir.

Ah dasar…setiap naik metro mini dan duduk, bawaannya ngantuk melulu, mata terasa berat..asap mengepul tak mampu mengalahkan rasa kantukku…setengah sadar, menikmati juga, lumayanlah dapat tidur di metro mini..he.he.

Sesampainya di lampu merah mampang prapatan, dapat ku tebak, disana nanti akan naik beberapa pengamen kecil. Eh benar…kali ini emang yang masuk dua anak kecil-kecil, lebih kecil dari biasanya. Dengan ceria dan sambil tertawa mereka berebut masuk duluan ke bis,,aku duluan,,aku duluan teriak mereka. Setelah keduanya masuk ke dalam metro mini, aksi panggung pun di mulai,,tanpa gitar tanpa alat, cukup dengan mulut, tepukan tangan dan beberapa amplop kosong. Mereka berdua mulai menyanyi..ku amati mereka…salah satunya masih sangat kecil, sekitar seumuran anak tk. “ asmala….”.satu kata yg kudengar dari mulut kecilnya. Dengan PD nya mereka nyanyi dengan ceria walau terdengar fales dan agak sedikit cedal mereka tetep melanjutkan menyanyi,,eh si kecil malah mengeraskan suaranya. Aku hanya bisa tersenyum….Sekitar 3 menit kemudian aku harus turun, tak lupa amplop sakti mereka kuserahkan, walaupun tidak banyak , semoga menjadi rejeki halal mu dik.’gumamku dalam hati’

Tak sempat ku tanya siapa namanya, tak sempat ku tanya berapa umurnya, sekolah kelas berapa, dimana rumahnya, siapa ibunya..aku pun turun dari bus, kulihat dari kejauhan,,mereka masih meneruskan aksi panggungnya..

Sambil berjalan menuju kost, sedikit ku berpikir dan merenung..alangkah beruntungnya diriku..walaupun dibesarkan di desa, ku tak pernah disuruh mengamen di waktu tk, aku masih dapat meraskan nikmatnya bermain,bersama teman-teman. Aku hanya bisa menghela nafas dalam –dalam. Pemandangan semacam ini biasa di temui di kota-kota besar negeri ini, apalagi Jakarta.

Sahabat..cobalah sejenak kita merenung, ..boleh jadi menjadi pengamen bukanlah keingnan dari anak itu. Ingin sekolah, ingin bermain,ingin mainan yang ini , ingin baju bagus..makan enak, anak kecil ini pun tentu menginginkannya. Akan tetapi di usianya yang terbilang masih balita, dibawah lima tahun dia harus berjuang untuk memperoleh uang. Kemiskinan..menjadi salah satu faktor utama, Si orang tua pun bahkan ada yang menyuruh atau mungkin memaksa anaknya yang masih kecil untuk mengamen di jalan dan bis kota. Ancaman bahaya kecelakaan,kekerasan,pemalakan,terus mengintai mereka, tak sebanding dengan apa yang mereka dapat. Berpeluh keringat, menghabiskan waktunya di jalan dan bis kota. Seolah –olah, jalanan, metromini dan kopaja adalah orang tua mereka, dikarenakan waktu bersama metro mini boleh jadi lebih banyak daripada waktu mereka bercengkrama dengan bapak ibunya. Padahal anak sekecil itu berada dalam fase hidup yng ingin bermain,membutuhkan kasih sayang yang lebih dari orang tuanya. Akan tetapi..faktor ekonomi dan kemiskinanlah yang kadang membuat orang tua tega memaksa anaknya yang masih balita untuk mencari makan untuk bertahan hidup. Bahkan karena kelemahan iman ..orang tuapun kadang tega membuang dan menelantarkan anak-anaknya.

Anak adalah anugerah dan titipan dari Tuhan, tak sepantasnyalah kita menyia-nyiakan amanat dari Tuhan. Alangkah malunya diri ini , belum bisa berbuat banyak untuk mereka ,di negeriku yang kucintai ini, masih begitu banyaknya balita dan anak-anak kecil yang tiap hari mereka menghabiskan waktunya di jalanan, tiap hari meraskan kelaparan , menghirup asap-asap hitam knalpot bus dan kendaraan. Berpeluh keringat,,menjajakan suara hanya untuk sekedar memperoleh uang untuk makan dan jajan.

Ya Allah, karuniakanlah kepada bangsa kami ini generasi-generasi yang kuat, sehingga pemandangan seperti ini sedikit demi sedikit hilang dari negeri kami. Semoga anak kecil tadi ketka aku tanya siapa nama bapak ibumu?dia tidak menjawab “ Bapakku Ko Paja dan ibuku Metro Mini”

#Jakarta,210710#

Minggu, Juni 13, 2010

SEBUTIR NASI TERAKHIR

“Siap Grak..!!! Sebelum Kita Menikmati hasil jerih payah rakyat pagi ini, marilah kita berdoa menurut Agama dan kepercayaan kita masing-masing, berdoa mulai….selesai, Selamat Makan”.Kalimat-kalimat inilah yang masih terngiang –ngiang di kepalaku. Kalimat pembuka sebelum kami , para peserta diklat memulai prosesi makan di hari itu.Di mulai dengan berbaris rapi,antri dalam mengambil makanan,aba-aba siap..berdoa dan ucapan selamat makan.

Dengan waktu yang terbatas, kami harus menghabiskan makanan yang telah kami ambil, tanpa menyisakan sebutir nasi di piring. Bagi sebagian orang, makan dengan cepat,waktu terbatas dan harus habis adalah hal yang sangat sulit untuk di lakukan. Selama kurang lebih 14 hari kami melakukan itu di acara diklat.Setelah terdengar kalimat “Selamat Makan” makanan di piring pun langsung disikat habis…setelah selesai prosesi makan dilanjutkan dengan berdiri siap,berdoa dan ucapan terimakasih.Setelah selesai, kami pun berjajar mengembalikan piring kotor ke tempatnya dengan rapi.Setiap pagi,siang dan malam, kamipun melakukan prosesi sakral ini…tiga kali sehari sesuai jadwal makn.

########

Sahabat..sebenarnya begitu banyak hal yang dapat kita petik dari prosesi makan kita,setiap individu akan dapat memberikan penafsiran yang berbeda-beda. Akan tetapi paling tidak kita menyadari bahwa makanan yang kita makan adalah hasil jerih payah orang lain,pun ketika kita makan dengan uang kita sendiri. Kita adalah makhluk social yang saling membutuhkan, saling membantu dan saling melayani. Beras yang kita makan berasal dari para petani yang bekerja keras menanamnya,,,pedagang,kuli pun mungkin juga ikut ambil bagian sehingga beras itu sampai ke kita. Petugas masak, yang jasanya sangat luar biasa, rela bangun pagi mulai jam dua malam untuk memasak makanan untuk dihidangkan buat kita. Anda sudah kenal dengan Ibu yang memasakkan makanan buat kita? “Mak Wo”..kebanyakan pegawai di pusdiklat memamnggil beliau dengan sebutan seperti itu. Nama aslinya Bu Darni, Ibu –ibu yang sudah memasuki usia senja dalam hidupnya. Beliau bersama rekan-rekannya dari pemalang, bertugas menyiapkan makanan buat peserta diklat. Memang..memasak adalah tugasnya,..bangun pagi, memasak, menyiapkan makanan adalah tanggung jawabnya, akan tetapi kadangkala kita kurang menghargai hasil jerih payahnya, mengeluh, mencela makanan, kurang ini,kurang itu, akan tetapi kita tak pernah menyempatkan untuk sekedar mengucapkan “terimakasih” kepada beliau,apalagi membantunya mencuci piring.

Ingatlah wahai sahabat..kita hidup di dunia pasti membutuhkan orang lain, banyak orang yang memberikan pelayanan dengan tulus kepada kita, akan tetapi kita jarang berterimakasih kepada mereka. Mungkin sebagian dari kita ada yang anak pejabat, orang kaya, orang terpelajar, seorang sarjana..tapi ingatlah kehidupan ini terus berputar, kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Kadangkala manusia berada di posisi atas, kadangkala pula akan berada di posisi bawah .Boleh jadi kelak kita akan membutuhkan bantuan dari orang-orang yang sering kita remehkan ataupun dengan orang yang tak pernah kita sapa sekalipun, karena kehidupan terus berputar.

Sahabat..prosesi makan yang kita lakukan juga memberikan pelajaran, bahwa semua yang kita terima, semua yang kita makan adalah anugerah dari Tuhan YME. Tuhanlah yang menggerakkan petani untuk menanam padi, Tuhanlah yang menggerakkan bu Darni untuk bangun pagi dan memasak buat kita. Sudah sepantasnyalah kita memulai memakan rezeki pemberian-Nya dengan tidak lupa berdoa serta menyebut asma-Nya.Ingatlah semua nikmat itu adalah pemberian dari Tuhan, dan sangatlah mudah untuk Tuhan mencabut nikmat-nikmat itu jika kita tidak bersyukur atas rezeki yang telah diberikan.

Sahabat..”Tanpa Sebutir Nasi yang tertinggal” memberikan pelajaran bagi kita untuk menghargai makanan kita, makan sesuai porsi diri kita masing –masing, tidak berlebihan. Kita diajarkan untuk membagi isi perut kita, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air, sepertiga untuk udara. Dengan menyadari seberapa besar porsi kita, naka kita akan dapat menentukan takaran makanan yang kita ambil. Dengan begitu, kita akan mampu meminimalisir makanan yang tersisa. Tidak membiarkan satu butir nasi pun di piring kita mengajarkan bahwa sebutir nasi itu boleh jadi adalah berkah dari Tuhan buat kita, sebutir nasi itu adalah barang yang sangat berharga bagi orang di luar sana. Cobalah kita berpikir sejenak, jika setiap penduduk di Negara kita meninggalkan sebutir nasi dalam sekali makan, lalu berapa butir nasikah yang terbuang sia-sia ?. Boleh jadi, butiran-butiran nasi itu akan terkumpul menjadi beberapa piring yang dapat dimakan oleh beberapa orang. Di luar sana, masih begitu banyak orang yang jarang memakan nasi setiap hari, …di luar sana , masih begitu banyak orang memakan nasi basi. Maka..marialah kita bersama-sama mensyukuri nikmat pemberian dari-Nya. Marilah kita berusaha untuk tidak menyisakan sebutir nasipun di piring kita ketika makan. Karena boleh jadi barang yang kita remehkan dan kita sepelekan akan sangat berarti bagi orang lain. Jangan sisakan sebutir nasi dipiringmu, jangan biarkan terbuang dengan sia-sia,Selamat Makan!

Sabtu, Juni 12, 2010

MENATAP LANGIT JAKARTA

Pagi itu, aku pun akhirnya tiba di Jakarta, setelah menempuh perjalanan darat dengan mobil travel sekitar 18 jam. Agak lama memang, dikarenakan harus menjemput penumpang lainnya ke rumah masing-masing. Ah..yang penting murah,dapat makan, diantar sampai tempat. Selain murah hitung-hitung menikmati perjalanan ke daerah-daerah pelosok untuk menjemput penumpang dan subhanallah pemandangan alamnya luar biasa.

Setelah tiba di kost baru,aku letakkan barang bawaanku dari kampung yang memang hanya beberapa pakaian ganti. Alhamdulilah susasana kost cukup nyaman dan tenang. Di depan kost,pohon-pohon begitu rimbun ,menjadikan suasana menjadi sejuk dan segar diantara hiruk pikuk kota Jakarta yang panas dan macet.Dari serambi lantai 2 kost ,tepat di depan kamarku…sesekali ku arahkan pandangan mataku ke atas langit kota Jakarta. Subhanallah, walaupun sedikit mendung, aku pun tetap menikmatinya.Hamparan langit yang luas, yang memberikan inspirasi bagiku akan kebebasan,kemerdekaan dan sebuah ke optimisan. Ku tatap langit Jakarta pagi itu,…ah..ternyata tetap sama dan tak jauh beda ketika ku tatap langit di kampungku. Walaupun dipenuhi oleh gedung –gedung tinggi yang menjulang, aku masih dapat menatap langit Jakarta dengan jelas. Gedung-gedung tinggi di Ibu Kota ini tak mampu mengalahkan tinggi dan luasnya langit ciptaan-Nya. Manusia tak lebih hanya sebagai titik kecil diantara luasnya alam semesta ini.

###### Sahabat,sejenak ku berpikir…ketika ku tatap langit di kampungku dan di jakarta ternyata memiliki sebuah kesimpulan yang sama. Kita..manusia yang dibawah langit ini tak ubahnya seorang makhluk kecil dibandingkan dengan luasnya alam semesta ini. Ah..betapa tidak pantasnya diri kita untuk menyombongkan diri, menyombongkan status kita sebagai orang kota atau desa, menyombongkan kedudukan kita, menyombongkan pangkat dan jabatan kita,menyombongkan harta kekayaan kita..sungguh diri ini merasa tak pantas. Lihatlah..betapapun tingginya jabatan seseorang..betapapun dia duduk di gedung –gedung tinggi yang menjulang , dia hanyalah seorang makhluk kecil yang tak mampu menandingi tinggi dan luasnya langit ini,apalagi dibandingkan dengan Sang Pencipta Langit..kita bukan apa-apa. Begitu banyak orang yang sombong, padahal dia berasal dari air yang hina,pergi kemana-mana membawa kotoran..akan tetapi dia merasa tinggi dengan menghujat dan meremehkan orang lain.Status orang kota,atau orang desa, ataupun seorang pegawai,pejabat atau buruh tidak menjamin ketinggian derajat kita di mata Tuhan. Ketaqwaan,dan perbuatan kitalah yang membedakan. Selama kita masih hidup di bawah langit dan masih menghirup bebas udara pemberian-Nya maka kita sama,yang membedakan adalah derajat ketaqwaan kita kepada Allah SWT.Tak sepantasnya kita meremehkan dan merendahkan atau menghina orang lain.Tak sepantasnya kita menyombongkan diri kita. Sahabat..sesekali,luangkanlah waktumu untuk menatap langit,di manapun kita berada, semoga senantiasa mengingatkan kita sebagai makhluk Tuhan yang tak pantas untuk menyombongkan diri dan selalu ingat dengan siapa yang menciptakan kita semua.

Rabu, Desember 30, 2009

RAPORT DIK LINTANG

Beberapa hari yang lalu, Lintang, keponakanku yang masih duduk di bangku kelas 1 di sebuah SDIT di daerah kami menerima raport. Hari itu dia memang tidak masuk sekolah, raportnya diambilkan oleh neneknya. Sesampainya di rumah, sang nenek pun mengabarkan hasil prestasi dari cucunya ini. “Alhamdulillah dapat rangking satu,” ..senyum kebahagiaan tersungging di bibir gadis kecil itu. Dia terlihat sangat bahagia, dilihat nilainya..memang luar biasa, rata-rata nilainya 90 lebih. Lintang pun sangat senang dengan prestasi itu, terbayang- bayang di benaknya akan hadiah yang akan diberikan bapak ,ibu,dan tantenya karena telah berhasil meraih juara satu dikelas.

Lintang memang seorang gadis cilik yang terbilang cukup cerdas, ketika masih TK saja dia pernah berhasil menjadi juara dua dalam lomba ceramah tingkat kabupaten. Akan tetapi prestasi yang diraihnya kali ini bukan tanpa usaha dan kerja keras. Masih teringat ketika musim ujian, Lintang sakit, tapi dia tetap masuk sekolah, dan dia tetap belajar, bahkan ketika dia kelelahan dan tertidurpun dia mengigau tantang apa yang dibacanya tadi ketika belajar. Lintang, gadis cilik itu juga harus bangun pagi-pagi, sholat, dan mandi, sarapan dikarenakan mobil jemputan dari sekolahnya jam 6.30 sudah menunggu di dapan rumah. Memang jarak sekolah lintang dengan rumahnya sekitar 8 km. Hal itu dilakukannya setiap pagi. Tanpa jajan,tanpa bekal, karena memang dilarang oleh sekolahan, snack dan makanan siang sampai minuman telah di sediakan oleh sekolahan. Ketika dia dikasih uang saku oleh tante-tantenya,bapak, ibu atau neneknya dia tabung semua, ketika di tanya “mau ku tabung untuk beli computer mas,..tabunganku sudah sampai Rp 200.000 an”

Di samping usaha kerasnya dalam belajar, lintang termasuk gadis kecil yang menjaga sholatnya. Ketika dulu dia menginap dirumahku, susanana pagi itu masih sangat dingin, tapi ketika dia dibangunkan untuk sholat subuh, dia langsung bergegas menuju kamar mandi dan berwudhu, setelah itu di shaolat subuh dua rekaat. Di saat anak-anak se usianya di daerah kami masih terlelap tidur, dia sudah bangun untuk sholat subuh, di saat teman-teman seusianya di SD lain jam 10 mungkin sudah pada pulang sekolah, dia jam setengah dua baru sampai di rumah, di saat siswa-siswa di SD lain Cuma belajar beberapa mata pelajaran saja, dia harus belajar ekstra dikarenakan disekolahnya banyak pelajaran yang tidak diajarkan sperti di SD lain. Di saat teman-teman seusianya menikmati jajan dari uang sakunya, dia memilih untuk menabung guna membeli computer. Dan akhirnya kerja kerasnya, belajarnya,membuahkan hasil yang manis di rapotan semester ini, dia mendapat rangking satu.

**************

Sahabat, saya begitu banyak belajar dari Lintang, gadis kecil yang baru duduk di kelas 1 SD. Segala sesuatu itu memang harus diperjuangkan, butuh usaha, kerja keras, dan doa. Kadangkala kita hanya melihat kesuksesan seseorang tanpa melihat pahit getir perjuangannya. “ Dia kan beruntung, dia kan anak orang kaya, dia kan… “ berbagai penilaian negative kadangkala kita lontarkan kepada seseorang yang berhasil memperoleh prestasinya. Padahal boleh jadi penilaian negative kita tidak benar, bisa saja seseorang mendapatkan sebuah kesuksesan memang itu hasil dari kristalisasi keringatnya, usahanya, terlalu banyak kisah sukses perjuangan seorang anak manusia yang telah kita baca dan dengar.Kisah seorang penjual sayur keliling, kisah seorang pelawak yang sukses, kisah seoarang remaja yang dikatakan idiot,..begitu banyak kisah yang telah kita ketahui, tapi akankah kita mengambil pelajaran dari itu semua?

Untuk menjadi orang yang extraordinary kita juga harus melakukan sesuatu yang tidak dilakukan orang lain, saya banyak belajar dari lintang, disaat teman-temannya menikmati jajanan dari uang sakunya, dia memilih untuk menabung, disaat gadis kecil seusianya jam setengah lima masih tertidur, dia bangun untuk sholat subuh, disaat temen-temennya di SD lain jam 10 sudah pulang, dia pulang sampai rumah jam setengah dua. Memang semua itu butuh pengorbanan,barang siapa bersantai saat bekerja ,ia akan menyesal saat pembagian upah.

Sahabat, memang penyesalan itu muncul di akhir. Kita selalu merasa telah berusaha keras tapi hasil belum nampak, dan kadangkala kita merasa iri dengan kesuksesan yang diperoleh orang lain, padahal dalam penilaian kita orang itu biasa saja, atau usahnya tak sekeras kita. Sahabat…marilah kita menghilangkan prasangka-prasangka negative itu. Tugas kita adalah ikhtiar, terus berusaha,lebih keras lagi, lebih cerdas lagi, berpikir positif, penuh optimisme, semangat dan keyakinan, dan terus berdoa kepada Allah. Saya yakin bahwa suatu saat Allah akan mengabulkan doa-doa kita, jangan pernah lelah berdoa dan jangan pernah berprasangka buruk kepada-NYA.

Semoga kita bisa belajar mengambil hikmah dari perjuangan seorang gadis kecil untuk meraih prestasi dikelasnya. Terimakasih Dik Lintang….saya banyak belajar darimu. Wallahua’lam bi showab.

WISUDA BRO!

Hari itu tanggal 3 September 2009, hari yang ditunggu –tunggu beberapa mahasiswa di kampus kami. Ya karena hari itu memang hari wisuda program Pascasarjana,PPDS dan sarjana.

Hari itu juga merupakan salah satu hari yang membahagiakan buat saya, setelah beberapa tahun akhirnya wisuda juga, maklum lulusnya telat..he..he. Persiapan dari rumahpun dilakukan pagi-pagi kami sudah berangkat menuju solo untuk menghadiri acara wisuda dikampus. Ditemani ibu dan bapak serta mbak Rati , mbak yang mengasuhku waktu kecil ketika ditinggal ibu mengajar, yang juga tetanggaku.

Sesampainya di kampus, seperti dugaan, kampus rame sekali, banyak calon-calon wisudawan yang telah datang bersama keluarganya. Kebetulan kami mendapat shift gelombang kedua dalam acara wisuda periode ini, maklum auditoriumnya nggak muat untuk menampung wisudawan.

Suasana pagi itu gerah sekali..panas..apalagi harus memakai pakaian TOGA, sumuk je….Tetapi suasana panas tak menghalangi kebahagiaan para wisudawan. Senyum-senyum bahagia masih tersungging dari bibir mereka. Ya walaupun panas, dan kebetulan juga pas bulan puasa..tetep semangat pokoknya…Banyak godaan memang,puasa-puasa, haus, snacknya pun cukup dibungkus dibawa pulang.

Akhirnya giliranku tiba, namaku dipanggil..eh..dibelakangnya dikasih embel-embel SE…padahal orang tuaku dulu gak ngasih itu dinamaku..ya gak apa-apalah….Maju kedepan sama pak dekan dikasih ijazah, dan tali kuncir di topi toga dipindah tempat..yah selesai..cuma gitu doank. Setelah itu keluar sholat dan foto-foto bareng teman-teman.

Ijazah dah ditangan, transkrip dengan nilai pas-pasan, he..he ya cuma dengan IPK 3 lebih dikit, walaupun nggak dengan pujian tapi lahmdulillah juga nggak dengan cacian. Ketika ku pandangi transkrip nilaiku.ha..ha parah ternyata..ada yang 2,2,2 alias C..he,.di beberapa mata kuliah, yang dapat B juga ada A juga ada tapi dikit..Jadi teringat masa-masa kuliah dulu, untuk mencapai nilai itu ya butuh usaha dikit, minimal ngopi catatan temen katika mau ujian buat belajar…datang ujian dengan jadwal yang tepat serta membawa KRS..inilah yang penting..coz dulu sempat kejadian dah belajar eh..lupa jadwalnya seharuse ujian jam 07.00 aku berangkat jam 12.00..akhirnya nggak lulus mata kuliah itu..hiks..hiks.

Saya yakin usaha yang luar biasa juga dilakukan oleh mahasiswa yang lain, usahanya dalam belajar, usahanya dalam membayar uang SPP, uang kontrakan, uang kost,uang buku. Usahanya dalam ngerjain skripsi yang kadangkala bikin males…walaupun ada juga mahasiswa yang dengan usahanya agar bisa lulus ujian,,nitip absen dll..hayo siapa ?pada ngaku..ha..ha.. dan Akhirnya..walaupun agak terseok-seok..agak telat lulusnya..hari ini kita wisuda bro!sebuah prosesi pelepasan gelar Mahasiswa dan pengangkatan menjadi PNS alias Pengangguran NIng Sarjana ( walaupun nggak semuanya) ..he..he..itulah kisah kita kawan, semoga fase kita di kuliah bisa jadi cerita klasik untuk masa depan,,ha..ha

############

Bro…wisuda di kampus kita sudah kita lalui, ada yang dapat IPK pas-pasan, IPK dengan Pujian . Ya tergantung usahnya dulu ketika waktu kuliah, tapi kita seneng kan bisa lulus?he..he.

Yang menjadi pikiran adalah bagaimana wisuda kita nanti dari kampus kehidupan ini bro…kalo di kampus kita dulu nitip absen mungkin nggak ketahuan dosen, ngopi paste tugas juga nggak ketahuan..tapi bagaimana dengan di akherat nanti? Apa bisa kita nitip absen waktu sholat? Apa bisa kita menipu Allah Yang Maha Tahu..Rekaman-rekaman tingkah polah kita sudah terekam dengan lengkap , lebih canggih dari hanya sekedar sadapannya KPK atau Polisi, lengkap selengkap-lengkapnya.Bahkan tangan, kaki kita akan bersaksi., bisakah kita untuk mengelak?

Kalau dulu kita di kampus dapat nilai D bisa kita remidi , apa ada di hari penghitungan nanti? Padahal kita sadar nilai-nilai kita dikampus kehidupan dunia ini masih banyak yang merah…masih banyak kekurangan sana-sini, kalau kita tak remidi sekarang mau kapan lagi?

Kalau dulu kita maju kedepan dipanggil trus dikasih ijazah dengan kedua tangan sama dekan, bagaimana di hari penghitungan nanti? Apakah kita termasuk ashabul yamin..golongan orang-orang yang menerima catatan amal dari tangan kanan, atau orang –orang yang menerima catatan amal dengan dilemparkan?...

Bro..Saatnya kita terus berusaha memperbaiki diri, terus berusaha untuk beramal sholih agar Allah ridho dan memberikan nilai yang baik untuk kita. Kampus kehidupan ini juga sangatlah pendek tetapi kehidupan setelah kampus ini kekal. Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang menyesal di hari penghitungan. Ya Allah, Yang Maha Membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati ini dalam dien dan ketaqwaan kepada-Mu.Golongkanlah kami dalam orang-orang yang mendapatkan pertolongan di hari perhitungan, dan hanya kepada-Mu kami berserah diri. Wallahu’alam bi showab.